Kau berbisa.
Kau penyiksa
Penuh bualan dan dusta
Smua kenikmatan
Semua keindahan
Semu dan penuh bualan
Kau penyiksa!
Lepas semua!
Setan, kau rusak segalanya!
Lepaskan semua!
Lepaskan semua!
Anjing, kau hancurkan akalku!
Lemah kumelihat
Resah kuterikat.
Bangsat, ku tak bisa mengelak!
kau merubah semua
kau hancurkan semua
Remuk semua tanpa tersisa.
Lemah kumelihat
Resah ku terikat
Bangsat, ku tak bisa mengelak!
Bualmu kupercaya
Tipumu ku terperdaya
Sadar, kutersadar tak bisa mengelak.
Kau kian bersinar
Kau kian berpijar
Anjing, kutersadar dan tersadar
Kau mengikat semua
Kau alihkan semua
Kau hancurkan semua
Setan, kau hancurkan pola hidupku!
Minggu, 09 Agustus 2015
Jumat, 19 Juni 2015
Permintaan Maaf
Mataku sedang menatap kosong
ke depan kelas ketika telfon genggam dalam saku celanaku bergetar.
Kurogoh ia dengan malas sambil setengah mengumpat, siapa pula orang yang
mengirim pesan singkat di tengah perkuliahan seperti ini?
Label:
Flash Story
Kamis, 18 Juni 2015
Bintang
Malam 2 Ramadhan.
Malam ini tanpa bintang
Malam ini tanpa bintang, kataku
Tak ada yang mengingatkanku padamu
Tapi aku tetap mengingatmu
Aku merindukanmu.
Malam ini tanpa bintang
Malam ini tanpa bintang, kataku
Tak ada yang mengingatkanku padamu
Tapi aku tetap mengingatmu
Aku merindukanmu.
Label:
Puisi,
Puisi Satu Bait
Guntur
"Prakk,"
suara gelas setengah kubanting beradu dengan meja yang sama terbuat
dari kaca. Minuman kekuningan masih tersisa memenuhi setengah gelas
itu. Sementara di sisi lain empat gelas berukuran sama telah kosong
tak berisi. Yang tersisa hanya tetesan-tetesan kekuningan yang mengalir
di dinding-dindingnya. Di tengah meja berdiri angkuh botol botol hijau
berjumlah lima buah. Satu diantaranya masih penuh berisi cairan
kekuningan yang sama.
Label:
Flash Story
Kamis, 11 Juni 2015
Pertengkaran Kemarin
"Kamu di sana apa kabar?" itulah
pertanyaan yang hampir tiap hari aku ucapkan. Namun setiap hendak
menanyakan padamu langsung, aku sendiri langsung bisa menjawabnya,"Kamu
baik baik saja (meski tanpa diriku)" Kemudian akhirnya aku hanya bisa
melihat isi profilmu dari media sosial yang semakin menegaskan bahwa
kamu baik baik saja. Ya, kamu baik baik saja tanpa aku.
Adalah
kebohongan bila aku berkata bahwa waktu tiga tahun bersamamu dapat
kulupakan begitu saja. Adalah kebohongan pula bila kini kamu telah
hilang dari hati dan pikiranku. Bagaimana tidak, waktu tiga tahun
bukanlah waktu yang sebentar, terlebih banyak kenangan yang terjadi
selama waktu itu. Ditambah dengan cara perpisahan kita yang tidak jelas
menurutku, tidak ada kata perpisahan atau ucapan selamat tinggal di
antara kita.
Jarak
memang pembunuh paling keji dalam sebuah hubungan. Awalnya kita memang
baik baik saja berada di tempat yang berbeda, dalam jarak sekian ratus
kilometer panjangnya. Toh kita masih bisa bertegur sapa lewat
teknologi. Kita masih bisa berucap mesra seperti mengungkapkan rasa
kangen kita lewat telfon atau pesan singkat. Namun seiring waktu,
segalanya berubah. Atas nama pertumbuhan, kamu berubah, begitupun aku.
Kita menjadi sibuk dengan urusan masing-masing. Intensitas percakapan
kita semakin berkurang. Ditambah biaya yang harus kita keluarkan demi
dapat bertegur sapa. Tak ada anggaran yang aku khususkan untuk dapat
terus berbicara denganmu. Kita semakin jaran bercengkrama, hingga
puncaknya, suatu malam kamu mengirim pesan singkat ke telfon genggamku.
Kamu berkata bahwa kamu kecewa padaku. Aku kaget bukan kepalang.
Kukira hubungan kita baik baik saja. Pertemuan yang sedang kuhadiri pun
aku abaikan. Aku menepi, menekan layar hp berkali kali untuk
menghubungimu. Setiap kali terhubung, sebanyak itu pula kamu menolak
panggilanku. Puluhan pesan singkat kukirimkan padamu dari telfon
genggamku, dan tak satupun kamu membalasnya.
Semua
serba tiba-tiba dan membingungkan. Hingga detik ini, aku tidak
mengerti apa yang membuatmu kecewa padaku. Tindakanku kah? apa yang
salah dengan tindakanku? Semua membingungkan. Dan sialnya, tak ada satu
kata pun darimu yang menjelaskan semuanya. Kamu bungkam. Setiap
kutelfon, kamu selalu menolaknya.
Satu
tahun lebih. Ya, telah satu tahun lebih kamu bersikap dingin seperti
ini. Padahal dalam waktu itu tak kurang dari seratus pesan singkat
telah kukirimkan. Aku pun menyerah. Lelah. tak ada itikad baik darimu
untuk memperbaiki apa yang telah rusak. Percuma saja bagiku
mengharapkan semua kembali seperti dulu jika kamu sendiri tidak mau
melakukannya. Kamu egois.
Aku
menyerah. Aku pasrah. Hidupku harus terus berjalan. Aku harus
menjalani hidup sebik kamu menjalaninya, tanpa diriku. Kamu bertemu
orang-orang baru, pergi ke tempat-tempat baru, menjalin hubungan dengan
orang baru, aku pun akan melakukannya. Bukan sebagai pembalasan dendam
terhadapmu. Percayalah, sudah sejak lama aku memaafkanmu. Aku
melakukannya hanya karena aku sendiri sadar, dunia masih terus
berputar. Aku harus tetap tumbuh, menjalani kehidupan yang baru,
menghargai orang-orang yang saat ini ada di sisiku, menghargaiku.
(V)
Label:
Flash Story
Jumat, 29 Mei 2015
Percakapan
Day 2
*****
Jam weker di atas meja belajarku menunjuk angka 2. Udara siang Kota Bogor sedang panas-panasnya. Sudah beberapa hari kota yang orang sebut sebagai kota hujan ini tak ditetesi air dari langit. Kipas angin yang menggantung di langit-langit kamarku seolah tak berdaya mengusir udara panas yang memenuhi seisi ruangan. Aku hampir memejamkan mata ketika telfon genggam yang kutaruh di samping jam weker berbunyi. Satu pesan masuk pada aplikasi WhatsApp-ku. Pesan darimu
*****
Jam weker di atas meja belajarku menunjuk angka 2. Udara siang Kota Bogor sedang panas-panasnya. Sudah beberapa hari kota yang orang sebut sebagai kota hujan ini tak ditetesi air dari langit. Kipas angin yang menggantung di langit-langit kamarku seolah tak berdaya mengusir udara panas yang memenuhi seisi ruangan. Aku hampir memejamkan mata ketika telfon genggam yang kutaruh di samping jam weker berbunyi. Satu pesan masuk pada aplikasi WhatsApp-ku. Pesan darimu
Label:
Flash Story
Kamis, 30 April 2015
Secangkir Rindu
Bagaimana bisa kamu bisa bertahan dalam pikiranku, sementara kamu tidak melakukan apapun sama sekali? Bagaimana bisa senyummu senantiasa menggetarkan dada, sementara aku sendiri tahu senyummu bukan seutuhnya miliku? Argh... nampaknya memang hatiku telah terpaut di atas namamu.
Dan namamu, terdengar lebih indah dari alunan beethoven sekalipun, membuat kepala langsung menoleh ketika seseorang menyebut namamu.
Aku hilang kata. Bagaimana bisa secangkir rindu hadir tanpa ada seduhan rasa sebelumnya?
Memang benar adanya
"Tak ada yang lebih indah dari hujan bulan juni"
Dan namamu, terdengar lebih indah dari alunan beethoven sekalipun, membuat kepala langsung menoleh ketika seseorang menyebut namamu.
Aku hilang kata. Bagaimana bisa secangkir rindu hadir tanpa ada seduhan rasa sebelumnya?
Memang benar adanya
"Tak ada yang lebih indah dari hujan bulan juni"
Langganan:
Postingan (Atom)


