Subscribe:

Pages

Jumat, 07 Februari 2014

Soneta XVII

Soneta XVII
Pablo Neruda


aku tak mencintaimu seolah-olah kau adalah
serbuk mawar, atau batu topaz,
atau panah anyelir yang menyalakan api.
aku mencintaimu seperti sesuatu dalam kegelapan
yang harus dicintai, secara rahasia, 
di antara bayangan dan jiwa

aku mencintaimu seperti tumbuhan
yang tak pernah mekar
tetapi membawa dalam dirinya sendiri cahaya
dari bunga-bunga yang tersembunyi;
terimakasih untuk cintamu, suatu wewangian padat,
bermunculan dari dalam tanah,
hidup secara gelap di dalam tubuhku

aku mencintaimu tanpa tahu
mengapa, atau kapan, atau dari mana
aku mencintaimu lulrus,
tanpa macam-macam, tanpa kebanggaan;
demikianlah aku mencintaimu
karena aku tak tahu cara lainnya

beginilah: di mana aku tiada, juga kau,
begitu dekat sehingga tanganmu di dadaku
adalah tanganku,
begitu dekat sehingga ketika matamu terpejam
aku pun jatuh tertidur

Rabu, 25 Desember 2013

Gerimis

Anna
Bus yang kutumpangi telah setengah jam berlalu, sedang aku masih terjebak di halte ini oleh gerimis yang tak kunjung reda.  Buatku, menerobos gerimis seperti ini bukanlah masalah sebenarnya.  Bisa saja aku berlari secepatnya sampai rumah.  Namun yang jadi masalah adalah ketika sampai rumah, Mama pasti ngomel ngomel karena badan dan pakaianku basah.  Belum lagi resiko flu yang bakal muncul jika aku terkena air hujan, seperti beberapa minggu lalu ketika aku sampai harus dirawat di rumah sakit gara-gara demam tinggi. Padahal waktu itu aku hanya terkena gerimis saja. Aku memang punya sedikit masalah dalam kekebalan tubuh.

Rabu, 04 Desember 2013

Memandang dari Jauh Lebih Indah daripada Mendekati


Seseorang pernah berkata bahwa memandang dari jauh itu lebih asyik daripada mendekati.  Awalnya aku kurang setuju.  Mana bisa dengan memandang aja bisa asyik? Namun perlahan, aku mulai mengerti.

Kamis, 28 November 2013

Sepucuk Surat untuk Tuan

Merunduk rengkuh mundur aku meninggalkanMu
Sambil sesekali rukuk dan sujud
Aku sujud dengan tangan mengepal ke arahMu

Rabu, 20 November 2013

The Climb

Nampaknya aku mulai jengah dengan semua ini; rumus matematik yang sulit kupecahkan,  deretan ikatan karbon yang mengular panjang, dan hukum hukum Newton-Archimedes yang tak pernah kumengerti maksudnya apa. Ini untuk apa? sudah saja hentikan semua ini.

Brrakk, kubanting buku Campbell setebal daun pintu kamarku.   Bosan sudah aku melihat tulisan hijau hitam di dalamnya. Covernya yang hijau pun benar-benar sudah tak menarik bagiku. Padahal dulu, hijau adalah warna kesukaanku.

Jumat, 18 Oktober 2013

Kenapa?

Kenapa harus ada kata "Kenapa" di dunia ini ?
Kenapa orang harus tahu apa yang orang lain pikirkan?
kenapa orang harus tahu apa yang orang lain ingin  lakukan?
Kenapa orang selalu ingin tahu apa yang sebenarnya bukan urusan mereka?
Tak bisakah mereka puas dengan sekedar mendapatkan jawaban, tanpa harus bertanya lagi "Kenapa?"
aku tak terbiasa mengatakan isi hati dan pikiranku pada orang lain. aku lebih terbiasa memendamnya sendiri. aku lebih suka mendengar ocehanmu daripada mencurahkan isi hatiku. maka jika aku memintamu untuk terus mengoceh, mengocehlah tanpa henti. dengan mendengarkan ocehanmu saja, sedikit pening di kepalaku menjadi hilang.