Subscribe:

Pages

Jumat, 02 Maret 2012

1) Aku, Saksi Hidup Seorang Pemuda


“Blarrrr,” pintu rumah kami terbanting keras.
Kami tak heran akan hal itu. Hampir setiap malam, aku dan ibuku terpaksa harus terbangun karena bantingan itu.
“Kakak mabuk lagi ya Bu ?” tanyaku polos sambil menoleh ke arah pintu. Kulihat seorang pemuda dengan mata terpejam berbaring di depan daun pintu. Mulutnya berbusa, rambutnya yang gondrong menutupi wajahnya. Baju kaos yang dikenakannya nampak basah, dan aku yakin itu karena minuman keras.
Aku berdiri, kudatangi pemuda itu. Dan seperti biasa, aku bangunkan dia, kupaksa dia pindah ke kamarnya, atau paling tidak menyuruhnya bergeser agar pintu bisa kututup.

Prolog



Ada seorang anak yang sejak SMP memiliki mimpi untuk menjadi penulis buku yang diterbitkan.  Namun ia malah nyasar kuliah di jurusan peternakan.  Walau ia punya phobia dengan ayam dan kurang suka (untuk memperhalus benci) pelajaran biologi, ia berusaha menerima itu semua sebagai takdirnya.

Sejak SMP ia sering menulis cerita-cerita pendek, walau hanya memenuhi hard disk yang hanya 10 giga, ia terus menulis.

Saat masuk SMA, ia dibelikan ayahnya komputer baru. Saat itu pula ia mendapat seorang ‘teman’ yang begitu ia kagumi.  Dari sanalah semua cerpen ini bermula.

Saat kuliah, ia baru sadar bahwa ternyata sangat sulit untuk bisa menjadikan cerpen-cerpen yang ia tulis menjadi sebuah buku. Akhirnya ia memutuskan untuk memposting cerpen-cerpennya pada blog yang ia miliki. Ia berharap suatu saat ada seseorang dari suatu penerbit yang nyasar dan salah buka blognya, namun ia tertarik atas cerita-cerita yang diposting di blog tersebut dan tertarik untuk menerbitkannya.

***
Terima kasih yang setinggi tingginya kusampaikan kepada Allah SWT, atas otak, tangan, mata, tubuh, serta segala nikmat yang tak akan pernah bisa terhitung;
Kepada Ibu, Ibu Sadiah, serta ayah, Bapak Ahmad Satibi, S. Pd yang telah mendidikku dengan segenap cinta dan kasih.
Kepada adikku, Feri Rivaldi, yang selalu merengek minta main game saat aku sedang asyik menulis;
Kepada Guru-guru yang telah memberikan segenap ilmunya dengan tanpa pamrih.
Kepada sahabat sahabatku, Alamsah dan Asep, yang selalu mau menjadi sahabatku walau aku sering uring uringan dan Ansos.
Kepada sahabat wanitaku, Nur Avianti, yang tak pernah salah paham saat aku bilang kangen.  Cuma sama Lo gue bisa ngomong kangen;
Kepada Arief, teman sebangkuku saat SMA
Kepada teman sekamarku di Asrama Putra TPB IPB, Andi, Angga, dan Nafar;
Kepada Nanang, yang selalu jadi imam sholatku serta teman curhat yang menyenangkan;
Kepada Fadhli yang sering aku jahilin;
Kepada BeQi, yang tak pernah marah walau dibilang Homo. Sekali kali lo berhak marah Bek.;
Kepada Reza, RT lorong 9 yang benar- benar goobs
Kepada Ilana Tan, penulis idolaku, yang sampai sekarang aku tak tahu bagaimana bentuk wajahmu.  Misterious is cool, right?
Kepada teman teman yang tak mungkin aku sebutkan satu  persatu;

Terima kasih, spesial aku ucapkan kepada Allah SWT, Ayah Ibuku,
Serta
Gadis berkaca mata penyuka warna pink dan eskrim stroberi yang telah menginspirasi sebagian besar cerita cerita ini

Untuk kalian, kutulis semua ini.



nb:  kepada gadis berkaca mata penyuka warna pink dan eskrim stroberi, tolong beri tahu aku saat kamu membaca cerita ini.

Selasa, 14 Februari 2012

Malam Pertama

Andini masuk ketika aku baru saja duduk di tempat tidur.  Walau semua riasan pengantin tekah ia hapus dan gaun pengantin telah ia ganti dengan pakaian biasa, ia tetap terlihat cantik di mataku. Sangat cantik.  Rambutnya yang tergerai sebahu sengaja tak diikatnya, dan itu membuatku semakin terpesona.  Wangi parfum melati masih tercium walau tadi ia sempat mandi.

Ia berjalan  melewatiku menuju lemari pakaian.  Kepalanya menunduk seakan malu untuk melihat wajahku. Ia membuka pintu lemari dan melepas kalung yang dikenakannya lalu meletakannya di dalam laci lemari,

“Andini,”  panggilku padanya semesra mungkin.   Aku belum terbiasa memanggilnya dengan panggilan sayang layaknya suami kepada isterinya.

Ia menoleh padaku.  Seakan mengerti maksudku, ia pun segera menutup lemari dan berjalan menndekatiku.  Ia duduk di sampingku sambil tetap menundukkan kepalanya.  Hatiku bergetar.  Ada kesejukan yang tak tergambarkan dalam hatiku.

“Ada apa?” tanyanya singkat.

Aku pegang kedua bahunya, lalu kutarik dengan lembut badannya menuruni ranjang sehingga tubuh kami saling berhadapan.  Aku condongkan badanku mendekatinya.  Ia mengangkat wajahnya dan memandangku dalam-dalam.  

Kupindahkan kedua tanganku pada pipinya.  Wajahnya yang halus mengusap kedua telapak tanganku.  Jarak mataku dengan matanya kini tak lebih dari 30 cm.  Dengan hati bergetar aku bertanya, “ Kau ikhlas menjadi isteriku ?”

Andini diam sejenak sambil matanya lurus menatap mataku.
“Insya Allah, Bismillah, aku ridho”

Mendengar jawabannya, aku semakin mencondongkan badanku.  Kepalaku semakin dekat dengan kepalanya, dan akhirnya, bibirku bertemu dengan ubun-ubunnya yang penuh dengan rambutnya yang halus.  Sambil mengecup ubun-ubunnya, aku berdo’a semoga Allah senantiasa merahmati kami, memberi keberkahan pada pernikahan dan keluarga kami, menjadikan keluarga kami menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah serta menjadikan keturunan-keturunan kami salih dan shalihah..  aku tiup ubun-ubunnya.  Seluruh jiwaku rasanya lepas dan masuk menyatu dengan jiwanya.  Kulepaskan bibirku dan kembali menatap wajahnya, lalu, bunga bunga cinta di taman hati kami bermekaran, senandung indah mengalun di langitnya yang cerah, pelangi terbit dengan lengkung yang paling indah, menjadi jembatan antara cinta kami berdua.


Nanggerang, 11 Februari 2012

Rabu, 11 Januari 2012

Andiana

Kucoba bacakan sebuah cerita untukmu
Dengarlah
Sebagai arti detak nadiku yang terus memburu

Bogor, 7 Januari 2012
Mentari keluar dari balik awan hitam
Setelah sepanjang hari hujan membasahi
Diikuti pelangi menyambut hari

Aku dengar suaramu lirih bertasbih
Seperti sejuknya hujan yang kuceritakan tadi

Tersenyum dalam gelapnya hari
Menari dalam pikiran kelam
Terbit dalam malam
Terbit dalam kesunyian

Sabtu, 24 Desember 2011

Said Something Nonsense?

Time Distortion
Bersamaan dengan detik yang semakin kencang, detak jantung semakin berdebar, tak bisa kutahan denyut nadi yang semakin keras, aliran darah yang semakin deras. 
Segala canda tawa yang dulu ada kini entah kemana. Terbilas rinai hujan yang deras, atau oleh angin yang menerpa keras.
Aku hilang, aku tersesat, aku tak tahu arah, tak tahu kemana tempat yang harus kutuju.
Ketika aku keluar, dunia telah jauh meninggalkanku.
Atau mungkin aku terbuang, diantara sampah sampah yang menumpuk dalam kubangan,
Atau mungkin pula aku terlalu menganggap ramah kehidupan.
Aku lelah
Aku kesepian
Aku lelah dalam kesepian
***
Kau pikir ini puisi?
Kau pikir ini hiburan?
Atau malah kau pikir ini candaan?
Seperti benang kusut yang tak perlu lagi engkau uraikan?

Kau pusing bukan?
Kau hanya bisa bilang pusing bukan?
Kau pusing lalu kau tinggalkan,
Seperti kumpulan puisi Anwar
Yang tak kau mengerti
Lalu kau lemaparkan.

Atau buku ismail
Yang kau beli hanya untuk hiasan.

Kau memang tak punya perasaan.

Aku tak sedang meminta
Tak pula sedang mengemis

Aku hanya marah pada dunia
Juga pada sesuatu yang tak aku tahu namanya apa.


(bogor kota Hujan, kota yang tak punya tempat teduh saat hujan,  24 Desember 2011)

Selasa, 20 Desember 2011

Dear Bunda


Bunda, apakah engkau di sana baik baik saja?
Bunda, di tempat yang jauh ini, nanda selalu mengingatmu, apakah di sana engkau juga sama?

Bunda, di sini tiap hari hujan, saat ini pun sedang hujan. Bunda, apakah di sana juga hujan?

Bunda, anakmu ini kedinginan, tak ada lagi orang yang mau menyelimuti nanda sepertimu, Bunda, tak ada. Tak ada lagi pelukan hangat lagi nyaman seperti dulu, Bunda.

Bunda, anakmu ini kesepian, tak ada lagi orang yang mau membacakan lagi cerita untukku sepertimu, Bunda, tak ada.
Tak ada lagi yang mau mendengar celotehan nanda, Bunda. 

Bunda, nanda kangen.
Nanda tak mau di sini, Nanda ingin pulang saja. Bunda tolong Bunda, jemput nanda sekarang juga.

Bunda, dulu Bunda pernah bilang, jangan bicara sama orang asing. Di sini orang asing semua Bunda, tak ada orang yang nanda kenal. tolong jempun nanda Bunda.

Bunda bilang nanda harus punya banyak teman. Nanda tak mau, Bunda. Nanda hanya butuh Bunda untuk jadi teman nanda.

Bunda, jika nanda pulang nanti, nanda janji ga akan nakal lagi.  Nanda janji ga akan nyusahin Bunda lagi. Nanda janji ga akan nangis lagi. Bunda santai saja, biar nanda yang mengerjakan semua pekerjaan Bunda.

Tunggu nanda pulang ya, Bunda. Tunggu nanda.  Nanda janji akan membawa oleh oleh buat Bunda saat nanda pulang nanti.


Inspired By : Wedding Dress

Selasa, 08 November 2011

Pernah Aku Bertanya

Pernah kutanya mentari, “Apakah sinarmu selalu diterima bumi ?”
“Tidak, kadang awan tebal membuat kebaikkanku terlupakan.”
Pernah kutanya malam hari, “ Apakah kau hanya bisa memberi kami kegelapan?”
“Tidak. Aku punya bulan dan bintang yang selalu memberi keindahan.”
Pernah kutanya pelangi, “ Mengapa orang orang menyebutmu cantik, bukankah kau hanya sekumpulan dari sekian banyak warna?
Dia tak menjawab. Tersinggung mungkin dengan pernyataanku.

Lalu kutanya mentari, malam hari, dan pelangi,” Apakah aku berdosa jika kusalahkan Adam atas semua yang terjadi ? Mungkin jika Khuldi tak pernah ia makan, kita akan terlahir di Surga. Mungkin tempat kita hidup adalah Surga.
Mereka tak menjawab, hanya menatapku lama dengan tatapan yang aneh.