Ayah
Hmmm
Ceritain dong gimana dulu ayah bisa suka sama ibu
Haha.. Mau tau?
Dulu ayah sukanya sama ibunya Kak Deni. Tau kan Kak Deni, yang rumahnya deket sekolah itu.
Oh, iya iya, terus?
Iya, dulu ayah pernah nyatain kalo ayah suka sama dia, atapi... ayah ditolak, hahaha (Kasian)
Ahahahaahhahahah... ayah patah hati dong?
Iya sih, sempet kecewa juga. Terus ayah ketemu sama ibu kamu. Ayah nekad datengin kakek kamu. Padahal dulu ibu kamu pinggitan banget lho. Tiap deket sama lelaki dikit aja, kakek kamu langsung memarahinya.
terus terus?
Ya, mungkin kakek kamu liat itikad baik ayah untuk memperistri ibumu, jadi beliau nerima lamaran ayah. Kita berdua nikah, lahir deh kamu
Jumat, 13 September 2013
The Gift
An, ada di kostan sekarang?
Ada. kenapa?
Aku ke sana ya, mau ngambil slayer orange yang dulu kamu pinjam
oke
An aku udah di depan
Seperti biasa, percakapan kita lebih banyak dalam sms dibanding dunia nyata. Aku selalu merasa grogi saat harus berbicara denganmu. Kata yang sudah aku siapkan sebelumnya menghambur seketika saat aku melihatmu. Ya, aku memang sulit bergaul, apalagi dengan wanita, terlebih itu dirimu.
"Ini," katamu sambil mengulurkan kain segi empat berwarna orange. "Makasih ya."
Aku tersenyum.
Mesin motor kumatikan. jari jari tangan kiriku merogoh saku celanaku dan mengambil sesuatu dari sana.
"Ini, An, oleh oleh dari jawa." sebuah gantungan kunci bertuliskan inisial namamu.
"Ah, kirain ga inget."
"Ingetlah," ya, selalu ingat
"Makasih ya."
Aku tersenyum.
"Ya udah, aku pergi dulu ya."
Kamu tersenyum.
Itu adalah kali terakhir kita bertemu. Aku menghilang begitu saja dari dirimu. Pergi melarikan diri, berlari dari kenyataan yang tak bisa aku terima. Kau memang harus memilih, dan semoga saja pilihanmu adalah yang terbaik untukmu. Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu. Aku pergi karena aku tak bisa melangkah lebih jauh lagi.
***
An, ada di kostan sekarang?
Ada. kenapa?
Aku ke sana ya, mau ngambil slayer orange yang dulu kamu pinjam
oke
An aku udah di depan
Seperti biasa, percakapan kita lebih banyak dalam sms dibanding dunia nyata. Kamu selalu terlihat gelisah. Entah apa yang membuatmu tak tenang. Kegelisahan itulah yang membuatku sedikit kurang nyaman di dekatmu.
"Ini," kataku sambil mengulurkan kain segi empat berwarna orange, slayer yang aku pinjam tempo hari. "Makasih ya."
Kamu tersenyum. Jari jari tanganmu merogoh sesuatu dalam saku celanamu.
"Ini, An, oleh oleh dari jawa." sebuah gantungan kunci bertuliskan sebuah huruf kamu berikan padaku. Aku tak mengerti apa arti dari huruf itu.
"Ah, kirain ga inget." kataku basa basi
"Ingetlah," katamu sambil menggaruk kepalamu.
"Makasih ya."
Kamu kembali tersenyum.
"Ya udah, aku pergi dulu ya."
Kamu menghidupkan motormu lantas pergi begitu saja.
Itu adalah kali terakhir kita bertemu. Kamu menghilang begitu saja, tak pernah sms aku, apalagi telfon. Begitupun aku, tak pernah berusaha menghubungi dirimu. Aku tak mengerti apa yang terjadi padamu. Seorang temanku pernah berkata bahwa kamu suka padaku. Tapi tingkahmu dingin, tak seperti mantan-mantanku dulu saat mendekatiku. Lalu aku berpikir, mungkin temanku salah mengiramu menyukaiku. Mereka hanya menebak nebak isi hatimu.
Label:
Flash Story
Minggu, 08 September 2013
Ibu, Aku Ingin Pulang
delapan tahun yang lalu
Telfon genggamku kutempelkan di telinga setelah sebuah nomor telefon aku hubungi. Beberapa saat kemudian nada sambung pun terdengar di telingaku. Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, kemudian, "Halo," sebuah suara terdengar dari seberang sana.
"Mah," kataku dengan suara berat.
"Iya, A, ada apa? A apa kabar di sana?"
Label:
Flash Story
Mak, Bogor Hujan Lagi
Minggu, 8 September 2013
"Mak, Bogor hujan lagi," teriakku dalam hati
"Mak, Bogor hujan lagi," teriakku dalam hati
Label:
uncategorized
Senin, 26 Agustus 2013
Bidadari depan Pintu
"Assalamualaikum", dengan lembut namun lantang sebuah suara muncul dari balik pintu depan rumahku. Aku yang sedang berada di ruangan tengah dengan malas terpaksa bangkit untuk melihat siapa yang datang.
"Alaikum salam," jawabku sambil membuka pintu.
"Ibunya ada ?" kamu bertanya sambil sedikit tersenyum. Amboy, senyumanmu yang indah langsung mempesonaku.
"Ah, ibunya tadi keluar, ga tau mau ke mana. ada perlu apa?" sekuat tenaga aku berusaha untuk berbicara selancar mungkin.
"Itu, mau ngambil sepatu, tadi udah telfon sama ibu mau minjam."
Aduhai, senyum indah itu kembali muncul.
"Sepatu yang mana ya? mungkin bisa dicarikan."
Siaaal, kegugupanku tak bisa disembunyikan lagi.
"Sepatu buat acara besok."
Perhatianku kini teralih pada ikat kepala biru yang menempel di rambut hitammu. Perwujudan sempurna dari perpaduan biru dan hitam
"Oh buat besok, kalo sepatu itu ga tau nyimpennya di mana. Saya coba telefon ibu dulu deh ya. Mbak mau nunggu di dalem?"
"Ah ga usah, di sini aja."
Aduhaai, senyum itu kembali muncul.
Aku masuk ke dalam rumah mencari telfon genggamku. Tombol angka 9 segera kutekan. panggilan cepat langsung tersambung dengan nomor ibuku.
:"Iya a, ada apa?" terdengar suara dariseberang sana.
"Ini bu ada tamu."
"Siapa?"
"Mbak Wewen, katanya mau ngambil sepatu buat besok"
"Oh, iya, ibu pulang sekarang"
"Alaikum salam," jawabku sambil membuka pintu.
"Ibunya ada ?" kamu bertanya sambil sedikit tersenyum. Amboy, senyumanmu yang indah langsung mempesonaku.
"Ah, ibunya tadi keluar, ga tau mau ke mana. ada perlu apa?" sekuat tenaga aku berusaha untuk berbicara selancar mungkin.
"Itu, mau ngambil sepatu, tadi udah telfon sama ibu mau minjam."
Aduhai, senyum indah itu kembali muncul.
"Sepatu yang mana ya? mungkin bisa dicarikan."
Siaaal, kegugupanku tak bisa disembunyikan lagi.
"Sepatu buat acara besok."
Perhatianku kini teralih pada ikat kepala biru yang menempel di rambut hitammu. Perwujudan sempurna dari perpaduan biru dan hitam
"Oh buat besok, kalo sepatu itu ga tau nyimpennya di mana. Saya coba telefon ibu dulu deh ya. Mbak mau nunggu di dalem?"
"Ah ga usah, di sini aja."
Aduhaai, senyum itu kembali muncul.
Aku masuk ke dalam rumah mencari telfon genggamku. Tombol angka 9 segera kutekan. panggilan cepat langsung tersambung dengan nomor ibuku.
:"Iya a, ada apa?" terdengar suara dariseberang sana.
"Ini bu ada tamu."
"Siapa?"
"Mbak Wewen, katanya mau ngambil sepatu buat besok"
"Oh, iya, ibu pulang sekarang"
Label:
Flash Story
Sabtu, 24 Agustus 2013
A Journey To Understand
Malam 20 Agustus 2013
Cinta datang tanpa rencana, cinta datang tanpa diduga.
Cinta dapat menembus perbedaan kaya dan miskin,
bumi dan langit,
bulan dan matahari
namun cinta tak akan membuktikan apa apa.
Aku mencintaimu namun cintaku tak secantik dirimu
Aku mencintaimu namun cintaku tak sebanyak hartamu
aku mencintaimu namun cintaku tak pintar dirimu
aku mencintaimu namun cintaku tak sekuat keimananmu
Aku mencintaimu namun Tuhan tak menciptakan cinta sesempurna dirimu.
Cinta datang tanpa rencana, cinta datang tanpa diduga.
Cinta dapat menembus perbedaan kaya dan miskin,
bumi dan langit,
bulan dan matahari
namun cinta tak akan membuktikan apa apa.
Aku mencintaimu namun cintaku tak secantik dirimu
Aku mencintaimu namun cintaku tak sebanyak hartamu
aku mencintaimu namun cintaku tak pintar dirimu
aku mencintaimu namun cintaku tak sekuat keimananmu
Aku mencintaimu namun Tuhan tak menciptakan cinta sesempurna dirimu.
~an~
Label:
uncategorized
Jumat, 02 Agustus 2013
Bagaimana bisa hidup berakhir seperti ini
Bagaimana bisa hidup berakhir seperti ini
"Happy ending hanyalah untuk cerita yang belum berakhir"
***
Pikirku, kertas putih
bagaimana kau bisa bilang itu suci?
itu kosong tak berisi
Coret saja dengan tinta mangsi
dengan cat abtraksi
dengan darah luka yang kau sayati
atau lumpur hitam
biar hidup lagi dalam benci
Palu saja hatiku ini
biar detaknya kembali
palu saja hatiku ini
biar ia tak lagi mati
palu saja batu ini biar hancur,
bagaimana bisa hidup berakhir seperti ini
Label:
Puisi
Langganan:
Postingan (Atom)


