Subscribe:

Pages

Jumat, 31 Agustus 2012

Andiana, Mawar Itu Mekar Kembali

Orang bilang, kaktus tak bisa tumbuh di gunung
     dan mawar tak mungkin tumbuh di gurun
Mereka salah
Telah kutemukan tangkai mawar yang bisa tumbuh di gurun
Dengan wanginya ia meng-indahkan hari-hari hidupnya.
Sampai suatu ketika, Ia layu

Catatan Kecil-Serupa Tapi Tak Sama


Mawar
Beberapa bulan yang lalu, namaku banyak disebut media media informasi, baik media elektronik maupun media cetak. Namaku bahkan sempat menjadi headline  surat kabar kabupaten.  Bagi mereka pemburu berita,  penderitaan yang aku rasakan merupakan sebuah santapan sedap untuk mengais rejeki.  Sudah sepantasnya memang, aku tak menyalahkan mereka. 

Rabu, 01 Agustus 2012

Langitku

Langitku yang biasa adalah langit yang cerah.  satu-satu awan berarak, namun tak cukup angkuh untuk menghalangi matahari dan sinarnya.  Sesekali angin berhembus, pelan-kencang, namun tetap damai.  Anak-anak pun gembira menerbangkan aneka warna dan gaya layangan mereka di langitku yang indah.  setiap hari berlangsung seperti itu, hingga aku merasa ada yang aneh antara kita berdua.  kau tak lagi antusias dengan celotehan-celotehanku.  kau tak lagi tertawa dengan lelucon-lelucon kecilku.  Kau tak lagi bisa lepas berbicara denganku.  Sejak saat itu, langitku berubah kelabu.  Sesekali guntur mengguruh angkuh.  Anak

Jumat, 27 April 2012

6) Draft









Draft


Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Tulisan  terindahku hanya untukmu

Mungkinkah kau kan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama
Puisi terindahku hanya untukmu

Lagu Jikustik berjudul Puisi itu diputar winamp ber-skin Big Bento begitu saja, tanpa aku hayati, tanpa aku resapi makna yang ingin disampaikannya.  Mataku tertuju pada tulisan berbentuk Kazuka Mincho Pro B  berukuran 12 yang tergambar dalam microsoft word 2003 yang sebenarnya sudah usang. Jari-jariku tertempel pada Keyboard bermerk K-One tanpa mengetik satu hurup-pun. Anganku terlanjur melayang ke tempat antah berantah dalam waktu yang tak kuingat lagi kapan.

Kamis, 19 April 2012

Rumput Hati

Ketika malam tiba
rumput berkata senyap
dalam sepi
kudengar lirih bernyanyi

ah
kurasa menangis
meratapi luka yang teramat perih

Dusta
Kau bilang dosa dengan luka

Dengarlah lirinya kembali menangis
Rumput itu kembali menangis



Senja Di Kota Hujan

Bulan sepi sendu
 senjamu guratkan rindu
Dinginmu pilu, mendung, kelabu.


Tak kudengan bait puisiku mengalun
 begitu juga dirimu
bak siang ditelan waktu.

 
Bulan sepi sendu
Dalam langit putihmu
kulihat jelas wajahmu.

Sepi


 Berlari sendiri, mencoba menggerakkan kaki secepat mungkin
Aku tak ingin berhenti, namun laju langkahku semakin tak pasti. Tak ada energi yang tersisa, tak ada tarikan atau dorongan yang bisa sedikit meringankan napas
Aku terjatuh, dalam gurun luas tak berpenghuni, berbaring terlentang tanpa energi. Aku tersiksa. Merintih, perlahan terbunuh sepi