Subscribe:

Pages

Kamis, 05 Januari 2017

Antara Pulang dan Malin Kundang

Antara Pulang dan Malin Kundang

Sebagai dari diriku ingin pulang.
Sebagiannya lagi membencinya.
Pulang adalah kembali ke asal.
Seperti air laut menguap jadi awan,
tetes hujan jatuh di pegunungan,
berkelana sekian lama di antara tanah dan batuan,
tetiba sampai di lautan.
Pulang adalah penjara paling menakutkan.
Lebih ngeri dari Nusakambangan.
Lantai, dinding, atapnya punya mata
Mata yang mengucilkan, mata yang mengecilkan.

Nama Tuhan

Nama Tuhan

Mengapa Ia tak boleh disebut dalam tempat kotor?
Di tempat berak ?
Apakah di sana Dia tak ada?
Apa Tuhan ada di tempat pesta?
Di tempat maksiat dan hura hura?
Adakah Tuhan di diskotik atau tempat pelacuran?
Adakah Tuhan di tempat sampah atau gorong gorong selokan?
Kenapa Tuhan tak pernah disebut di sana?
Apa Tuhan hanya ada di tempat penyembahan?
Tempat dimana namaNya selalu disebut didengungkan?
Di mana sebenarnya Tuhan berada?

Selasa, 14 Juni 2016

(Tak Ada) Hujan Bulan Juni

(Tak Ada) Hujan Bulan Juni

Tak ada New York hari ini
Tak ada hujan bulan juni
Ah, harusnya kutulis pula, tak ada busway dan kopaja hari ini

Stasiun terlalu padat buat kau pijak
Terlalu sesak buat kau penat
Maka biarkan saja jarak meraja
jumawa angkuh sembunyikan jiwa yang tak lagi ada

Kau telah genap
Tubuhmu terisi hujan dari gelas gelas kecil di belakang.
Yang kosong kau tinggalkan

Asal kau tahu saja
Hujan kota ini tak pernah bijaksana
Tak seperti kata Sapardi yang terlalu dimabuk asmara
Menunggu, bagaimanapun juga,adalah sesuatu yang sia sia.

Senin, 18 Januari 2016

Jangan Menangis, Ibu

Jangan Menangis, Ibu

Kamis kemarin lagi lagi kau merintih
Luka lama kembali menganga perih
Di pipi tirusmu
Kau pendam semua pedih dan letih

Enam peluru menembus jantungmu
Dari mereka yang mengaku anakmu
Kau meringis
Tawa riangmu semakin terkikis
Padahal kau layak bahagia tanpa tangis

Minggu, 03 Januari 2016

Omong Kosong

Omong Kosong


Pagi kau teriak cintailah kebersihan
Kau punguti sampah sampah jalanan dalam satu ikatan
Siangnya kau lempar ia ke sungai tanpa segan

Siang hari kau teriak cintailah lingkungan
Kau tulis itu dalam papan pengumuman
Sarang lalat di pojok rumahmu kau biarkan.

Sore kau berkoar jagalah kesehatan
Hepatitis dan tipus sedang jadi ancaman
Kau biarkan piring dan gelas bekas liurmu berserakan.

Malam kau melengggang ke tempat mengaji
Kau bilang cintai sesama dengan berbagi
Uang kas kau nunggak tiga bulan gaji

Omong kosong!!!

Sabtu, 07 November 2015

Kembali Pulang



Satu persatu aku tanggalkan atribut-atribut kejahiliyahan dari tubuhku; gelang yang telah sekian tahun melingkar di pergelangan tangan, rambut gondrong acak acakan yang seolah telah menjadi ciri khas diriku.  Aku orang baik baik.  Meski atribut itu tak menggambarkan prilaku setan, dan aku tetaplah diriku yang sama, aku ingin bertingkah seperti orang baik lainnya.   Pemberontakkan demi pemberontakkan yang kulakukan ternyata tanpa kusadari telah membawaku ke suatu tempat antah berantah yang membuatku ingin pulang saja.

Selasa, 03 November 2015

Selamat (Jalan)

Pukul sepuluh pagi di hari Sabtu terakhir bulan Oktober.
Matahari duha telah lama mengintip dari celah jendela yang tertutup tirai, menggelitik mata yang masih saja ingin terpejam.  Pagi ini sehabis shalat shubuh aku memang sengaja tidur lagi.  Bukan tidur lagi tepatnya, tapi tidur (tidak pakai lagi).  Semalaman aku tidak tidur sama sekali.  Jangan bertanya apa yang aku kerjakan!

  Kepala pening luar biasa dengan ingus yang keluar dari hidung tiada hentinya.  Aku coba membuka mata, menatap pagi yang tidak ada bedanya dengan pagi sebelumnya; suram.  Telfon genggam berwarna hitam yang terletak di atas meja kuraih dengan enggan dan kuhidupkan.  Dua pesan masuk, dua panggilan tak terjawab.  Bagus.  Satu pesan masuk pukul setengah 8 dari teman yang meminta diantar ke kantor polisi mengambil STNK motornya yang ditahan ketika kena tilang, meminta diantar jam 8.  Telat.  Satu lagi pesan masuk pukul 5 pagi.  Pesan darimu.

“Cem aku mau pindahan.  Boleh nitip gitar punya *******”
Aku segera membalasnya
“Jam berapa pindahannya?” mengabaikan topik gitar yang menjadi inti pesan.
“Nanti jam 2 siang”
“15 menitan lagi aku kesana”

***

15 menit kemudian
Dengan kantung mata yang membengkak, hidung yang meler, dan mata yang merah, aku menyeret tubuh lemasku ke kostanmu.  Bapak Kostanmu menyambutku dengan tatapan aneh, tapi berubah ramah ketika aku menyebut namamu.  beberapa detik kemudian kamu muncul dengan kaos oblong putih dan rambut diikan asal asalan, tidak kalah berantakannya dengan penampilanku pagi ini.

“Helm kamu mirip gojek, hijau” sambutmu.
“heh?” aku termenung, blank.  “ ah. haha” Sial.  Otakku sepertinya belum berjalan sempurna.
“Nitip yah, yang punyanya baru pulang nanti sore,”  katamu sambil menyodorkan gitar.
Aku tersenyum. Perasaan tidak-ingin-berpisah yang telah ada semakin menjalar saja.
“Kamu langsung pulang atau...”
“Engga, pindah ke rumah Uwa di ****”
“Oh yang waktu itu.”
Kamu mengangguk
“Selamat (jalan) yah..”
Air mukamu berubah. Aku memang tidak bisa menerjemahkannya sebagai perasaan bersedih-karena-perpisahan, tapi itulah sebenarnya yang aku harapkan.

Begitulah.  Tidak sampai 5 menit kita bertemu, yang bisa jadi untuk terakhir kalinya.  Aku berusaha tegar, meski nyatanya berat juga.  Motor yang kukendarai melaju dengan kecepatan tak sampai 30 kmperjam.  Waktu terasa berjalan lambat, dengan kenangan kenangan masa lalu yang tiba-tiba memenuhi kepala.

***

Tentu saja
    Tentu saja hari ini ada, jarum jam masih berputar 24 hitungan.
    Tentu saja tak perlu adegan seperti Jesse dan Celine saling berjanji bertemu di tempat yang sama 6 bulan kemudian. Atau  Nanami yang melepas Motoharu di stasiun kereta dengan lambayan dan tangisan.
    Tentu saja ini bukan novel atau film yang dramatis  namun bahagia di akhir adegan, hingga  kalimat "aku berharap waktu berhenti saat ini" tak perlu diucapkan.
    Tentu saja.
    Ah... tentu saja.
.

Bogor, 3 November 2015
-tsy-